Rabu, 08 Februari 2012

Restu Perjalanan (Coretan yang "terbuang") #3

19 Agustus '08
(Hari Kesepuluh) Segara Anak, Air Kalak
Dendam sudah terbalas di hari ini, setelah aku merasa cukup puas tidur tadi malam.
Sambutan angin lembut khas suasana danau mengusap wajahku yang baru saja keluar dari persembunyian. Segar dan sejuk..., harum air danau juga ikut tercium oleh hidung, di ujung sana Barujari sangat jelas terlihat, berdiri sendiri, seolah selalu meminta untuk difoto oleh mereka-mereka yang mengunjungi tempat ini. Sementara di beberapa titik, aku melihat banyak orang yang sedang memancing, mencoba peruntungannya berburu ikan.
Siang ini kami akan menuju "air kalak" -sumber air panas-, 
berencana akan mandi di sana.  Lima orang berangkat terlebih dahulu, sementara Amir dan Lana menunggu giliran, mereka 'menjaga' tenda. Perjalanan yang ditempuh untuk menuju air kalah tidaklah jauh, hanya sekitar 10-15 menit saja kami sudah sampai disana, kemudian sesuai dengan rencana, kamipun akhirnya..., mandi.. (Horeeee, akhirnya mandi juga...). Memang berbeda rasanya kondisi tubuh ini setelah berendam di air panas, menyebabkan..., rasa kantuk datang kembali..., dan, lapar tentunya... (Hihi...)


air kalak

tak ada ikan yang terkail di malam keakraban, acara tetap meriah...
Pastilah kalah meriahnya suasana pesta di klub-klub malam dibandingkan dengan "pesta" yang kami adakan malam ini, lampu-lampu disco (kerlipan menawan bintang-bintang), suara musik yang dimainkan DJ (suara-suara merdu binatang malam), gelas berisi minuman beralkohol (nikmatnya segelas kopi susu
 hangat), dan seksinya wanita-wanita cantik yang menggoda (adalah guyonan yang keluar dari masing-masing kami), juga dilengkapi dengan menu makan malam; ikan karper bakar -asli danau Segara Anak (yang tentunya tidak akan bisa ditemui di klub-klub malam manapun).
Lana memang handal untuk 'urusan' ikan, ikan karper yang didapat itu diolahnya lalu dipanggang di atas perapian yang telah dibuat sebelumnya (namun jangan salah persepsi saat membaca; 'ikan karper yang didapat',  karena ikan karper itu bukan hasil jerih payah kami memancing, walaupun beberapa dari kami sudah mencoba untuk mendapatkannya tapi kami tetap gagal, akhirnya..., terpaksa kami membeli dari pemancing yang berhasil mendapatkannya, hihihi...).
Sekarang kami semua dapat menikmati lezatnya ikan karper bakar, sungguh lezat, sangat leeezaaaaaaattt. Hmmmm, enaak, "nyam nyam nyam...", serat dagingnya terasa lembut di lidah, empuk saat digigit, baunya begitu harum menusuk hidung, warnanya sangat putih..., rasanya betul-betul sangat... FENOMENALLL !!!, 
(pembaca berkata; "cukup penulis, cukup!!!. Mohon jangan diteruskan lagi!!. Lalu penulis menjawab:"baik pembaca, tidak akan saya teruskan lagi deh cerita makan ikan karper itu, walaupun memang sangat lezat sih rasanya..." hihihi). Entah memang kenikmatan itu berasal dari ikan tersebut atau karena campuran bumbu  racikan Lana yang membuat kami semua seakan tidak rela untuk berhenti mengunyah.., terlebih lagi Soe, sepertinya ia yang paling banyak makan di malam itu (khusus untuk Soe: "inilah resikonya kalo ngga ngebantuin nulis, jadinya aibnya dibuka..." hihihi, "jadinya terserah yang nulis aja mau nulis apaan..." Horeeee...)
dari kiri: Ating, Amir dan Lana; sang koki handal

Malam yang semakin larut membuat suasana menjadi semakin akrab, kami semua merasa bahwa sepertinya kami sudah saling mengenal sebelumnya. Hal ini sangat jelas tercermin ketika 'sesi' bercanda dimulai, canda dan guyonan yang keluar dari masing-masing mulut terdengar begitu lepas, tanpa beban, mengalir begitu saja..., tidak ada perasaan ragu ataupun canggung...  Wajah-wajah dari tujuh manusia ini nampak sangat ceria, saura-suara tawanya mengisyaratkan kebahagiaan, lambang kebersamaan..

"mengapa kita 'harus' bertemu??"

bertemu
beberapa orang 'ditakdirkan' untuk  bertemu di saat yang tidak terduga, atau disaat yang tidak disengaja, untuk suatu jawab di masa mendatang saat tanya di masa kini belum terjawab...
berkenalan
perkenalan dimulai saat dua orang mau mengulurkan tangan. berjabat tangan lalu berbicara
berteman
pertemanan terjadi ketika dua orang atau lebih mempunyai suatu kesamaan hal, yang dirasa penting ataupun kurang penting...
akrab
keakraban dapat terjadi disaat dua orang atau lebih mempunyai suatu kepentingan yang sama atau tujuan yang samapersahabatan
persahabatan terjadi karena dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan atau kepentingan yang sama dapat saling menolong, membantu dan peduli.

terlepas dari itu semua.., sahabat atau bukannya aku terhadap anda.., dan anda terhadap aku,,,
aku telah menemukan jawabannya, jawaban daru sebuah pertanyaan;
"mengapa kita harus bertemu...?"

 

20 Agustus '08
(Hari Kesebelas) Segara Anak - Gerbang Senaru (akses keluar - masuk hutan)
Dirasa sangatlah kurang waktu yang 'diberikan' selama  dua malam bercanda dengan danau ini, tak rela untuk pergi meninggalkan keanggunannya. Sambil menyusuri tepian danau ini kedua mata seakan tak pernah ingin melepaskan pandangannya, memandang ke segala penjuru danau, lukisan Pencipta yang teramat indah...
Pkl. 12.00 WITA 'monster pemburu keringat' itu sudah terlihat, monster ini adalah jalur terjal menanjak akses menuju Plawangan Senaru.
"monster pemburu keringat"

Belum lama berjalan perpecahan tim mulai terjadi di pertengahan jalur ini, sepertinya monster ini sedang menyeleksi kami satu persatu, panjangnya jalur terjal yang seperti tak berujung berdampak terhadap penurunan kekuatan fisik, tenaga menjadi semakin terkuras, diperburuk lagi dengan cuaca panas menyengat tanpa awan menghalang dan posisi matahari yang berada tepat di atas kepala membuat keringat mengucur deras. Belum cukup sampai disitu, kenikmatan ini semakin menumpuk saat  aku menemui sebuah persimpangan jalan, aku mengambil jalur yang mengarah ke kanan, namun jalur yang ditempuh adalah jalur yang salah, membuatku harus berjalan lebih jauh untuk menggapai sebuah punggungan -yang sebetulnya cukup dekat bila tadi aku mengambil arah yang benar-. Di punggungan ini aku kembali berhenti, menarik nafas dalam-dalam sambil menengok ke belakang, melihat lagi danau Segara Anak yang seperti sedang melambai padaku, bak mengucapkan salam perpisahan...
Segara Anak; gambar diambil dari "monster"

Aku membalikan badan, kutengadahkan wajahku, "Waduuuh, ini tanjakan kapan abisnya...?", Kucoba untuk berjalan lagi, namun hanya beberapa saat, aku kembali harus menghentikan langkah, tidak untuk beristirahat, tapi karena tercengang melihat dua-tiga orang yang sedang menurui tebing terjal di depan sana, orang-orang itu berjalan dengan sangat lincah walau tidak beralas kaki, seolah tidak peduli dengan berat beban yang dipikulnya, dari pakaiannya tergambar kalau mereka tidak mengenakan alat-alat pendakian yang standar, bahkan jauh dari standar. Menurutku, pastilah mereka juga tidak mengerti tentang navigasi modern (sama sepertiku, huahuahua..).
Porter-porter itu kemudian melewatiku, kedua mataku ini terus mengikuti gerakan mereka yang masih lincah berjalan, meluncur cepat ke bawah... Pemandangan ini sangat kontras terlihat dengan turis-turis yang berada di belakangnya, nampak turis-turis ini begitu 'repot' untuk berjalan meski mereka sudah dilengkapi dengan peralatan standar pendakian, bahkan beberapa dari mereka malah ada yang sedang menggunakan 'trekking pole', tapi tetap saja mereka kewalahan...
, (jelaslah sudah kalau para porter itu memang manusia-manusia super...)
Aku lalu berjalan lagi, mencoba menapaki jalan terjal itu, tak lama kemudian aku telah tiba di Plawangan Senaru, pkl. 15.05..
Di Plawangan Senaru ini kami bertemu dengan 2 orang wanita warga Negara Jepang beserta dengan para porternya, kedua wanita ini adalah relawan yang bekerja di Lombok sebagai bidan dan ahli gizi (Relawan dari Jepang? Orang Indonesianya kmn ya?? Hhihiii…).
trio Mataram dan dua wanita Jepang
Dengan pertimbangan persediaan logistik yang semakin menipis, kamipun tidak dapat berlama-lama istirahat di tempat ini., penurunan harus dilanjut kembali.
Warna di cakrawala sudah semakin menguning, pkl. 17.10 WITA saat di Pos 3 ini kami rehat sebentar, kemudian langsung dilanjutkan menuju Pos 2.
Bersamaan dengan momen para umat yang taat biasanya akan melakukan ibadah sholat magrib, tibalah kami di Pos 2.
Lima dari tujuh orang sudah berkumpul, Amir, Lana, Ating, Soe dan si manusia kecil.
Saat itu Lana berinisiatif untuk mengambil air, menuju sumber air yang terletak tidak jauh dari kawasan ini. Sementara Berto & Erna masih belum muncul, nampaknya mereka tertinggal cukup jauh di belakang. Kira-kira sudah 30 menit kami menunggu, namun Erna dan Berto belum juga datang, sedangkan matahari sudah mulai tertidur.
Dengan menggenggam senter di tangan, akhirnya diputuskan untuk menjemput mereka. Aku berjalan di depan dan Amir di belakang, kami berdua kembali naik untuk menjemput yang tertinggal. Lima-sepuluh menit setelah kami berjalan, aku mendengar teriakan suara dari atas, suara itu adalah suara Berto yang sedang memanggil-manggil namaku. Tibalah kami disana, di tempat asal suara itu, 
“aku dan Erna nda bisa ngeliat, jadinya nda bisa jalan, soalnya senter kami ada di tas Erna yang dibawa sama Lana”. Huh, jelas saja mereka tidak dapat berjalan, karena waktu tadi di pertengahan jalur dari Pos 3 – Pos 2 carrier yang dibawa Erna ternyata diberikan pada Lana, dengan maksud untuk meringankan beban Erna saat berjalan. Tapi mereka lupa kalau senternya diletakkan dalam carrier tersebut (hihi.., aya aya wae…)
Lengkap sudah sekarang, tujuh manusia telah berkumpul kembali dalam suasana ‘yang agak lain’ di Pos 2, dengan sisa perbekalan logistik yang ada kamipun memasak dan makan sekedarnya. Duduk melingkar di atas ‘bale’ Pos 2, ditemani temaram pijaran lilin yang menyala sambil melahap sedikit havermut, satu sendok lalu diestafetkan, berkeliling.
Lenyap sudah sisa logistik terakhir..
Di lain pihak kejanggalan mulai terlihat di wajah Lana, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya, entah itu apa…
“Allright bebeh…, Allright..’ adalah yel-yel yang selalu diucapkan pendaki Bandung itu, Ricky (kami bertemu dengannya sewaktu di Segara Anak). Suaranya menandakan akan kehadirannya. Ia dan temannya, Tommy tiba juga di Pos 2.
Sekarang mereka bergabung dengan kami, sembilan anak manusia kini akan menyelesaikan kunjungannya di hutan ini, turun menuju gerbang Senaru, hanya dengan bermodalkan semangat... -karena energi sudah habis-.
kenapa kamu, Lana...
Parkir di Pos Extra yang ada sesajinya membuat bulu roma berdiri, merinding, respon terhadap rasa takut. Tapi tetap saja, walaupun takut, kami semua malah beristirahat agak lama disini, lelah tak dapat lagi dippungkiri... Kejanggalan dalam diri Lana mulai terungkap, tersibak dari wajahnya yang memucat, diikuti ketakutan, seperti sedang dikuntit sesuatu, mungkin ‘oleh-oleh’ dari sumber air di Pos 2 tadi. Soe sangat sigap dalam melihat kondisi Lana, sekarang ia selalu menempel Lana, menjaganya, untuk antisipasi terhadap kemungkinan lebih buruk yang dapat terjadi kapanpun..



21 Agustus ‘08
(Hari keduabelas) Senaru – Mataram, kediaman Amir

Tak ada awal yang tak berakhir, tak ada hujan yang tak reda, begitupun dengan kesempatan mengunjungi hutan hujan ini. Akhirnya kami semua selamat tiba di gerbang Senaru, pkl 01.30 WITA, setelah melewati proses tiga belas jam lebih dimulai dari Segara Anak (sungguh sebuah catatan waktu yang sama sekali tidak bisa dibanggakan, hmm…).
Kami tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi di dalam hutan sana, kami juga tidak pernah tau akan akhir dari perjalanan ini. Kami hanya merencanakan awalnya saja, selebihnya…, biar hutan sendiri yang mengatur dan biar cuaca sendiri yang berkehendak.

Bukti kalau ini memang tanah Lombok = pedas
Di suasana yang lebih baik ini mulailah Lana bercerita tentang apa yang dirasakannya saat berada di Pos 2 tadi. Benar memang kalau ia merasa seperti dikuntit atau dibayangi oleh sesuatu. Terlepas dari semua itu, mungkin karena faktor kelelahan atau malah benar kalau ‘sesuatu itu’ memang tadi ada, aku sendiri tidak terlalu memusingkan. Sekarang mata dan konsentrasi ini hanya tertuju pada menu makanan yang terpajang di etalase warung (terdapat warung nasi tepat di depan gerbang Senaru).
Pesanan nasi sudah siap disajikan, menunya adalah ikan pedas. Untung saja warung ini buka 24 jam, jika tidak.., jelas sudah lambungku akan menggerutu malam ini, kelaparan. Mulut terus saja mengunyah, tanpa mempedulikan lagi keringat deras yang sedang berlomba meluncur turun dari atas kepala. Pedas memang makanan ini, mungkin inilah menu terpedas yang pernah masuk ke mulutku seumur hidup. Kenangan akan makanan ini pasti tidak mungkin dapat kulupakan, Nasi Pedas Senaru, begitu aku menjulukinya. Harganya tidak mahal, kalau tidak salah cuma ‘lima ribuan’, aku tidak begitu mengingat harganya, karena ini ‘gratisan’; Ka' Berto yang menraktir kami (Horeeee lagi…, makasih ya ka' Berto…).
>>Kami memberikan gelar “Kaka” untuk Berto, setelah kami mengetahui kalau jumlah usianya lebih banyak dibandingkan kami (hihihiiii)

Tawaran emas dari Amir
Sedang lahap-lahapnyanya bersantap, Amir menyuarakan sebuah kalimat yang tidak mungkin tidak tertangkap oleh telinga. Kalimat itu berbunyi demikian, “Ayo, besok pas pulang dari sini, semuanya mampir dulu ke rumah saya, ke Mataram. Santai-santai dulu disana menginap aja disana…”.Mendengar tawaran ini, urat-urat telingaku langsung mengirim sinyal ke syaraf-syaraf otak, lalu otak meneruskannya ke hati, suara hati berbicara,“Wah, tawaran emas nih.., ga boleh.., ga boleh sampe dilewatin…, hihihiiii”, pasti saat itu kedua tanduk iblis di kepalaku mulai tumbuh.

Itu cahaya bintang, bukan cahaya lampu-lampu kota Mataram
Aku bukan robot atau mesin pencari Google yang 24 jam dapat terus beroperasi, setelah perut terisi penuh kamipun mulai menghindar dari keramaian mencari tempat yang lebih sepi, untuk bersembunyi dan tidur. Tidurlah kami semua, meletakkan seluruh badan di atas bangku, depan warung nasi. Beratap langit cerah yang sedang bermandikan bintang, sungguh nyaman... Namun aku masih belum tertidur malam ini, bukan karena gangguan nyamuk-nyamuk seperti yang terjadi di stasiun Gubeng melainkan karena aku mulai berkhayal, melihat cahaya bintang-bintang seolah sedang melihat kerlipan lampu-lampu kota Mataram dari kejauhan… (Hmmm…, kaaacaau)

Cinderamata terakhir dari Senaru
Cukup pagi kami semua terbangun, menjejak lagi berlanjut menuju Pos Senaru. Beberapa ratus meter sebelum sampai di Pos Senaru kami menyempatkan diri untuk mampir lagi di sebuah warung, ada yang menarik dari warung ini, botol-botol berisi cairan warna putih keruh. Ituah 'brem' Lombok yang "manyus', salah satu minuman khas Lombok. Aku sangat ingin mencicipinya, sekedar ingin tahu rasanya. "Wew, ngeri nih.., nenek nenek juga metal nih...", dengan suara yang pelan kalimat itu terucap dari bibir, setelah nampak seorang wanita tua renta keluar dari warung. Ternyata hanya seorang nenek yang menjual minuman keras ini.
Dan yang satu ini juga gratisan, sekarang giliran Lana yang menraktir. (Hihihiiii…, beruntung benar perjalanan ini, sangat direstui). Minuman ini memiliki ceritanya sendiri, selain bila diminum berlebihan tentunya akan memabukkan, minuman ini juga berkhasiat mengeluarkan gas dalam perut. Kami mengalaminya…


"Brem" Lombok

Di warung ini kami berpisah dengan Ricky dan Tommy, kami berpamitan untuk pulang lebih dulu. (sampai bertemu di lain waktu, "sahabat penghibur").

Setibanya di Pos TNGR Senaru kami langsung melapor kepada petugas yang berjaga, urusan pun selesai.
Momen ini adalah momen yang paling kucinta sekaligus paling kubenci, saat-saat kami harus melambaikan tangan untuk “Si Cantik yang Angkuh”, seakan sudah dapat memprediksi bahwa di kemudian hari aku akan sangat merindukannya.
Bemo –sebutan ANGKOT untuk di Lombok- sudah menunggu di depan Pos Senaru, ketujuh manusia ini masuk ke dalamnya, dari beberapa sudut dalam perjalanan “Si Cantik yang Angkuh” masih bisa terlihat, duduk sempurna di singgasananya...
Beberapa menit berlalu tibalah di salah satu daerah lalu kami turun dari kendaraan, dilanjutkan dengan menggunakan “Engkel’ untuk menuju kota Mataram.
Kami berpisah dengan Lana dan Ating di pusat kota Mataram. Mereka turun terlebih dahulu dari “Engkel” ini, langsung pulang menuju rumahnya masing-masing.

telapak tangan harus melambai kembali...
Kami akhirnya tiba di rumah Amir,kira-kira pkl. 14.00 WITA siang hari. Selesai membasuh tubuh diteruskan dengan makan siang. Plecing kangkung dan ayam taliwang menunya. Pedas, sudah pasti. Yang terpenting adalah gratis, lagi-lagi makanan ini juga 'gratisan'. (ternyata, Amir adalah seorang anak dari pemilik salah satu rumah makan di daerah Mataram. Di hari-hari selanjutnya kami tidak perlu untuk memikirkan ‘masalah’ makan selama di Mataram ini, tidak ada selembar rupiah pun yang keluar. Hal ini semakin menguatkan alasan, mengapa coretan ini akhirnya berjudul: "Restu Perjalanan")
Selesai sudah makan siang, kembali lagi lambaian tangan harus diangkat. Sekarang waktunya Erna-Berto yang akan pergi ‘meninggalkan’ kami. Mereka harus menuju Bali hari ini, mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang akan terbang menuju Balikpapan. Padahal aku baru saja merasakan nuansa persaudaraan dari mereka. Mereka sungguh terasa bagaikan dua orang kakak bagiku.
Lana sudah kembali datang dengan sepeda motornya, sekarang ia dan Amir siap untuk mengantarkan Erna-Berto menuju terminal.
teringat sebuah pepatah,
...dimana ada kelahiran, pasti akan ada kematian
...dimana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan,
 sampai berjumpa lagi para kakak…

Petang di kediaman Amir tak banyak aktivitas yang dikerjakan, sekujur tubuh masih sangat letih dan otot-otot di seluruh badan belum mengendur, tetap terasa tegang, inilah satu contoh warisan dari Rinjani, warisan lainnya…, kulit wajah terbakar dan bibir pecah-pecah.
Hari memang belum larut malam, saat fokus pandangan mulai buram dan berbayang, tak kuasa lagi untuk menahan godaan agar secepatnya bersua dengan kasur empuk. Tirai bola mata kemudian tertutup dan aku sudah tak sadarkan diri lagi… (trimakasih Amir untuk Plecing kangkung-ayam taliwang siang tadi, dan kasur empuk di malam ini; mungkin malam ini kami sedang tidur beralas tembok keras di sebuah masjid atau terminal, jika saja Pos 1 tak mempertemukan Soe dan aku, denganmu…)

nyambung...>>>

<insanpenyendiri>

Restu Perjalanan (Coretan yang "terbuang") #2



16 Aguustus '08

(Hari Ketujuh) Pos 1 - Plawangan Sembalun
sabana tersenyum, motor trail menertawakan

Matahari menggantung di seperempat horizon ketika aku mulaimembuka mata di pagi itu, kemudian aku mengambil kamera untuk mengabadikan beberapa momen di sekitar pos 1. Aku keluar tenda dan terkejut saat melihat ada  beberapa motor trail yang sedang parkir."Hah...?/" melongo pasti wajahku saat itu. Kuhampiri pemilik motor itu, lalu kami bercakap, dan ternyata melalui penuturan lelaki ini aku jadi tau, kalau motor trail memangdiperbolehkan masuk ke kawasan TNGR, beliau juga bilang kalau motor tersebut bisa sampai di pos 2, selebihnya perjalanan tidak dapat dilanjutkan (mungkin bisa saja, tetapi sulit), karena setelah pos 2 jalur menjadi relatif lebih curam dari sebelumnya dan tidak bisa dilalui dengan motor. Mendengar penjelasan dari si pengendara motor ini membuat setan dalam hati ikut berbicara.., "Hmmm, kalo aja tadi malem ada motor trail yang lewat, pasti gw bakalan numpang trus ga bakalan cape2 deh buat jalan kesini...., tapi..., malem-malem...?! auuww...!" 
Selesai bercakap dengannya, kemudian aku mulai mengambil gambar, tampak sekali Soe sudah bersiap untuk berpose. Memandangi hasil dari beberapa gambar yang djepret membuat semangat kami untuk melanjutkan perjalanan menjadi lebih terbakar, ditambah dengan hamparan sabana cantik yang seakan menggoda, belum lagi cuaca cerah pagi itu membuat guratan indah gunung Rinjani semakin jelas terlihat, dan seolah sang puncak memanggil.."Ayo, datang kemari...."










bergabung dengan mereka
Peralatan masak dan logistik sudah dikeluarkan dan artinya teriakan dari para prajurit cacing di dalam perut sebentar lagi tidak akan terdengar.
Saat kami sedang asyik menikmati sarapan datanglah tiga orang pen
daki yang kemudian menghampiri Soe, lalu mereka berbincang. Aku sempat bingung sebelumnya.."Nah.., kq si Soe kenal sama orang2 ini..?". Namun pertanyaan itu segera terjawab saat aku mulai mengingat  wajah-wajah mereka (yang kemudian aku tau namanya; Amir, Lana dan Ating). Mereka adalah pendaki yang bertemu dengan kami saat di pos TNGR kemarin sore, namun kemarin kami hanya sebentar bertemu dengan mereka, karena setelah mengurus ijin pendakian mereklangsungberanjak menuju rumah kerabatnya yang masih di sekitar desa Sembalun Lawang, mereka menginap di sana -mereka baru memulai pendakian pagi hari ini-.
Sarapan pun selesai, semua peralatan sudah masuk kemb
ali ke dalam carrier, dan sekarang kami berlima siap untuk melanjutkan pendakian.
Pukul 10.30 WITA  tepatnya awal langkah menuju Plawangan 
Sembalaun itu dimulai, aku berada paling belakang (seperti biasa), baru satu jam berjalan banyak dari kami sudah mendengar kembali teriakan para prajurit cacing, yang berasal dari perut masing-masing tentunya. Keputusan diambil, ya, waktunya bongkar perbekalan lagi. Makan siang usai dengan cepat, mengingat Plawangan Sembalun yang masih jauh adalah tujuan pendakian di hari ini.  

tak menyesal di bukit penyesalan 
Pkl 14.45 WITA kami berlima tiba di Pos 3, lagi dan lagi, aku yangterakhir tiba disana. Tak lama kami beristirahat di Pos 3 ini, lalu perjalanan dilanjutkan. Mungkin disinilah perjalanan yang cukup berat (menurutku), yang disebut dengan Bukit Penyesalan. 'Susul menyusul' -bukannya sedang berlomba- dan bergantian istirahat adalah hal yang bisasa, karena melihat jalur yang panjang dan semakin menanjak memang memaksa kami harus melakukan hal tersebut.

Aku tiba di pertengahan bukit dimana terdapat sedikit tempat yang "rata", menanggalkan carrier lalu beristirahat sejenak sambil menunggu yang lain tiba, menunggu beberapa rekan yang masih ada di belakang (akhirnya, kali ini aku tidak di belakang, hihi...). Amir dan Ating akhirnya datang, serta merta teriakan Ating membuatku jarus turun dari tempat beristirahat, kuhampiri mereka, dan ternyata Amir mengalami sedikit masalah pada kakinya, aku menawarkan bantuan kemudian menggendong carriernya sampai ke tempat dimana tadi aku beristirahat.
Penitian dilanjutkan setelah istirahat dirasa cukup dan kondisi Amir sudah membaik, tak berselang lama kami berjalan, terang mulai berganti gelap, transisi penguasa langit berlanjut sampai akhirnya benar benar hitam. Alat-alat penerangan mulai dikeluarkan dan dipakai. Kembali aku harus menerima 'nasib' karena langkah yang selalu lambat, aku tercecer lagi ke urutan paling belakang. Untungnya teman-teman setia menunggu dengan memperlambat lajunya (membuatku tak menyesal meski sedang berjalan di Bukit Penyesalan).
sepasang bahu dari surga
Entah pukul berapa saat laju angin lembah terus menerus "menghajar" tubuh ini. Langkah semakin melambat dan bobot carrier seperti semakin berat membebani bahu dan punggungku. Soe dan Ating sudah jauh di depan disusul Lana sementara posisi Amir masih dekat di depanku. Aku menghampiri Amir yang sedang beristirahat, "Saya kayaknya istirahat agak lama disini Mir, kamu ke atas aja duluan, trus bilangin ke Soe: saya masih lama istirahatnya. Kalo nggak memungkinkan kayanya saya bakalan tidur disini aja, besok pagi baru deh saya nyusul ke atas -Plawangan Sembalun-". Aku mulai membuka carrier dan mengambil ponco untuk melindungi tubuh dari terpaan angin, sementara Amir menatapku seolah aku akan mati malam ini. Lalu Amir dan Lana melanjutkan perjalanan, di sisi lain aku terdiam seorang diri, berselimut bisu, hanya berteman dingin dan gelap, terasing di Bukit Penyesalan...
Kira kira 10 menit setelah Amir dan Lana melanjutkan perjalanannya, aku mendengar suara yang tidak asing di telinga, "Soe?" tanyaku dalam hati, seolah tidak percaya saat aku mendengar suara itu. Damemang benar, itu Soe, dia menghampiriku dan berkat"Kenapa lw? sini gw bawain carriernya.. Gw barusan udah nyampe Plawangan. Udah deket pisan, paling juga 5 menit dari sini mah", Soe kemudian menggendong carrierku, akupan bersemangat dan mulai berdiri lagi, sambil berkata"Yaaaah, kalo gw tau juga gw kaga bakalan diem disini, Soe, pasti gw paksain kalo tau udah deket banget mah..."
(kamsiah Soe, kamsiah..., hatur nuhun udah bawain tuh "si lonto
ng", bahumu ibarat 'sepasang bahu dari surga')
karena,
...sahabat pasti  akan membantu

...sahabat pasti 
akan menopang
...sahabat pasti 
akan menjaga
...sahabat pasti mengulurkan tangannya
dan sahabat... pasti akan kembali..., kembali datang untuk menjemput sahabatnya yang tertinggal....

uang kertas  sepuluh ribuan
"Wooow..., seakan terpaku tubuh ini seketika, setelah untuk yang pertama kalinya aku melihat indahnya danau Segara Anak/Anakan. Saat itu memang malam hari, namun cuaca begitu cerah dan langit sangat bersih tanpa awan yang menggantung, membuat panorama Segara Anak yang terlihat dari Plawangan Sembalun ini begitu jelas. Aku kemudian duduk, sambil terus meyaksikan keindahan danau ini (danau yang tadinya hanya bisa kulihat di lembaran uang kertas sepuluh ribu rupiah).
Setelah dirasa cukup puas menikmati indahnya danau Segara Anak, kamiberlima kemudian beranjak dari tempat itu, lalu mencari 'spot' untuk mendirikan tenda, akhirnya kami menemukan sebuah tempat, tempat yang lumayan sempit, tepatnya berada di puncak punggungan, lokasi ini sebetulnya sangat tidak nyaman untuk membangun tenda, tapi kami tidak dapat berbuat banyak -karena waktu pendakian yang bersamaan dengan momen 17 Agustus inilah yang membuat banyak orang datang berbondong-bondong untuk mendaki gunung Rinjani, dan lantas menyebabkan kawasan TNGR ini menjadi sangat ramai-, mungkin memang inilah satu-satunya tempat yang tersisa. Alhasil hanya satu buah tenda yang dapat dibangun (tenda yang dibawa oleh Amir),  sementara tenda yang aku dan Soe bawa terpaksa tidak didirikan malam itu.
Seketika angin gunung berubah menjadi mendung, 'payung alam' kini mulai tak bersahabat, memaksa manusia-manusia kecil untuk segera masuk ke dalam tenda, sementara di luar s
ana titik-titik air sudah berubah menjadi gerimis. Tidur bersesakan di dalam tenda yang harusnya berkapasitas empat orang sungguh tidak nyamam -dipaksakan masuk lima orang-, namun kami sama sekali tidak menyesal, karena ternyata hal tersebut cukup ampuh untuk membungkam udara dingin yang menusuk di malam ini.., dan kamipun... bermimpi...


17 Agustus '08(Hari Kedelapan) Plawangan Sembalun
Batal sudah pikirku rencana kami ke puncak hari ini, beberapa pendaki, guide dan porter yang kami temui menginformasikan bahwa, cuaca di pertengahan jalur menuju puncak sangat tidak bersahabat, berkabut dan berangin kencang,  menyebabkan sebagian besar dari mereka yang mencoba meraih puncak terpaksa turun kembali, mengurungkan naitny untuk menggapai "langit itu" di hari ini. -beberapa pendaki yang sukses menggapai puncak juga harus menerima 'hadiah', di atas sana mereka tidak mendapatkan cuaca cerah, apalagi pemandangan indah; jangan berharap!- Berbeda halnya dengan cuaca di Plawangan ini, walaupun penglihatan ke arah puncak sering tertutup kabut tapi indahnya danau Segara Anak cukup mampu untuk mengobati para pendaki yang gagal/batal 'muncak'.
Sementara lima kurcaci ini mempunyai kesibukannya sendiri, pagi ini kami berpindah tempat, membongkar tenda yang sejak tadi malam sudah berdiri, kemudian kembali mendirikannya di dekat jalur yang menuju sumber air. Kali ini tenda pinjaman yang telah kubawa jauh-jauh dari rumah akhirnya dapat didirikan (horeee...).

samarinda's
Tak banyak yang dapat dilakukan hari ini, selain tentunya memasak dan makan , kegiatan hari ini hanya diisi dengan foto-foto dan bersilaturahmi.
Dua orang yang sebelumnya sempat bertemu dengan kami di pertengahan jalur antara Pos 2-Plawangan Sembalun kemarin sore, ternyata kami jumpai lagi hari ini, aku melihat tenda mereka yang berdiri tidak jauh dari tempat dimana kami mendirikan tenda. Salah satu dari mereka kemudian mendekati dan menyapa, olahraga lidah kembali dimulai diawali dengan 'ngopi bareng'. Dalam perbincangan beliau menyebutkan, kalau ini adalah kali pertamanya mereka mendaki gunung, karena di tempat asalnya tidak terdapat gunung, -sedikit gunung di Kalimantan- ("pendakian pertama ke-Rinjani? Terakhirnya nanti dimana?!", begitulah pertanyaan yang dilayangkan oleh banyak orang) memang, hampir tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Rembulan telah datang menyapa , malam ini kami harus tidur lebih awal, karena rencana pendakian menuju puncak akan dimulai sekitar pkl.02.00 WITA dini hari nanti. Harap-harap cemas sebelum mata ini tertutup, "mudah-mudahan di pagi nanti cuaca akan cerah dan tidak seperti hari sebelumnya..", itulah harapan suara hatiku..., dan kamipun semua terlelap, seolah meninggalkan Plawangan Sembalun dengan kesunyiannya..., sepi...



18 Agustus '08(Hari Kesembilan) Plawangan Sembalun - Puncak Rinjani - Plawangan Sembalun - Danau Segara Anak
Berto (pendaki yang berasal dari Samarinda) mendatangi tenda kamisekitar pkl. 01.00 WITA, disaat itu aku dan Soe sudah terbangun, kemudian kami menyiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan untuk 'summit attack'.
Pkl. 02.00 W
ITA pendakian menuju puncak dimulai, setelah selesai berdoa, kami berlima (Berto, Amir, Lana, Soe dan aku) bergerak secara beriringan, perlahan tapi pasti, satu demi satu langkah kaki pun diayunkan.
Beratnya pendakian di awal perjalanan mulai terasa saat kami harusmeniti beberapa jalur yang cukup terjal dan disertai dengan debu-debu yang masuk ke dalam rongga pernafasan, kedua hal itu cukup memberikan alasan mengapa kami harus berhenti beberapa kali.  

bisikan semangat dari angin

Entah sudah berapa lama kami berjalan, angin berhembus semakin kencang pagi ini, membuatku berulang kali harus berlindung di balik batu atau cerukan-cerukan yang dapat kujumpai selam
a perjalanan."Kayanya gw udah jalan lebih dari setengahnya deh...", tiba-tiba hati ini berbicara di saat kesekian kalinya aku harus berhenti ditengah-tengah jalur pendakian, namun kali ini aku hanya berdiri, tidak duduk dan bersembunyi di balik batu ataupun cerukan, kucoba 'mengambil nafas' dan sejenak menunggu  angin kencang ini 'pergi', lalu  aku menoleh ke belakang, melihat Soe yang masih berjalan. Sekilas kulihat ayunan langkahnya,  ayunan langkah yang sepertinya sangat berat, kemudian ia mendekat, dan berhenti tepat di belakangku. Kuperhatikan wajah itu, wajah yang seakan menggambarkan keputusasaan. "Hadoooh..." sambil menggelengkan kepala keluhan itu keluar dari mulutnya, dan hal itu cukup membuatku mengerti atas apa yang sedang dirasakannya. Kami terdiam sejenak, lalu aku berkata.. "Soe, ga bakalan ada langkah ke-2 kalo ngga ada langkah yang pertama...", kata-kata itu entah datang darimana, aku hanya mengucapkannya begitu saja, seolah tanpa berpikir dan tanpa perencanaan. Namun akhirnya kata-kata itu menjadi 'spirit' baru yang menyertai langkah kami selanjutnya, dan terbukti..., kami berjalan lebih bersemangat dari sebelumnya, walaupun fisik sepertinya sudah 'habis' dan nafas 'menghilang', atau bahkan sepertinya sudah tidak mungkin lagi untuk Soe dan aku dapat menggapai puncak yang sudah ada di depan sana, tapi kenyataannya kami dapat terus melanjutkan pendakian ini.

ijin dari 'pemilik'

Setengah enam pagi waktu setempat akhirnya kedua kaki'ku berhenti melangkah, dan kali ini bukan untuk beristirahat... Aku terdiam melihat Lana dan Amir yang telah terlebih dahulu tiba di tanah datar ini, tanah yang sudah tanpa penghalang, ujung titik ini..., ...Puncak Rinjani... Sementara posisi Soe waktu itu berada di sampingku. Aku sudah dekat, bahkan sangat dekat, hanya bersisa sekitar 10 meter lagi untuk menuju kesana, namun aku diam, tidak beranjak dari tempatku berdiri, dan dari sinipun aku sudah dapat melihat indahnya cakrawala luas, melihat indahnya semua hal yang ada di bawah sana.. Aku takjub, heran, seperti tidak dapat berkata-kata dan bergerak.
Kemudian aku mulai berjalan kembali, lalu kusinggahi tanah itu, dan akhirnya bibir'ku mencumbu pasir kerikil yang bercampur debu di tanah ini (sesuai dengan janjiku sebelum aku datang kesini). Luapan rasa ini sungguh tak dapat ku'mengerti, hanya air yang menggenang di ujung mata yang dapat menjelaskannya... Yang kutau, aku hanya mencoba tuk selalu menghormati puncak-puncak gunung, dan tak pernah sekali pun aku  mencoba tuk menaklukannya, karena aku hanya diberi ijin untukberdiri di atasnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya aku turun kembali, lalu angin dan hujan akan menghapus sisa-sisa jejakku yang tertinggal..


karena aku... hanyalah manusia kecil...,
disaat malam dingin datang, aku hanya bisa menggigil, b
ersembunyi di dalam sleeping bag...
disaat badai menerpa, aku hanya bisa terdiam di dalam tenda, merengek, lalu meminta agar cuaca kembali cerah...
atau malah,
ketika engkau murka, aku takkan berani untuk mendaki, mendekatpun tidak,,,, aku terlalu takut untuk menghadapi lahar dinginmu... terlebih lagi awan panasmu...
aku sadar, aku tak'kan pernah dapat menaklukanmu, sekalipun tidak...
karena aku...
hanya manusia kecil... 


...setelah aku pulang dari tempatmu, tak ada lagi yang perlu dipromosikan atau dibuktikan dari diriku ini...,
...setelah aku pulang dari tempatmu, hanya sisa cerita tentang keindahanmu yang akan kuberitakan, yang hanya karena diijinkan maka aku dapat melihatnya...


karena aku...
hanya manusia kecil...


Pkl. 08.00 WITA kami berlima telah kembali berkumpul di Plawangan Sembalun, seperti biasa, aku yang terakhir tiba. Lagi-lagi cacing ini berteriak, atau berorasi lebih tepatnya, aku dan beberapa teman lainnya kemudian mulai memasak dan makan.
Istirahat yang terlalu lama mengakibatkan kami malas untuk 'packing', padahal hari ini kami akan menuju danau Segara Anak, berencana akan mendirikan tenda di tepiannya. Siang hari rasa malas itu ak
hirnya tumbang oleh keingian yang besar untuk segera berada di tepian danau, sementara kami sedang 'packing', Berto dan rekannya berpamitan pada kami, mereka akan berjalan menuju danau terlebih dahulu, begitu penuturannya. Pkl. 14.00 WITA 'packing' selesai lalu kami memulai perjalanan menuju danau.

'ditakdirkan' berjodoh  

Tiga jam waktu yang dibutuhkan untuk dapat sampai di danau ini, Segara Anak. Dari kejauhan terlihat Berto yang telah tiba terlebih dahulu sedang menatap ke arahku. Bahasa tubuhnya seperti sedang mengisyaratkan sesuatu, dan nam
paknya ada yang ingin ia sampaikan padaku, kemudian aku berjalan mendekatinya...  "Masih punya air kah?" harapnya, lalu kusodorkan wadah air yang kebetulan memang masih berisi, "Ini, pake aja.."tawarku.., diraihnya lalu diberikan kepada rekannya yang sedang kehausan, Erna namanya. Tiga buah tenda telah berdiri dan saling bersebelahan, kini Soe dan aku memiliki dua tetangga (Amir n d' gank - Berto n partner; mungkin kami semua memang ditakdirkan untuk saling bertemu, saling mengenal dan saling bercakap...).
Sementara suasana di tepian danau sangat romantis mengisi sore ini, ya, sangat 'melow', tapi..., sayangnya Soe yang berada di sebelahku, bukan wanita cantik... (hmmm, Soe... Soe...)

Restu Perjalanan (Coretan yang "terbuang") #1


"Terimakasih ya, semuanya...., udah mau direpotin. Ok deh, kami pamit sekarang....", kira-kira kalimat tersebut yang keluar dari mulut saat kami mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan kepada teman tem
an di Jogja. Sekitar  pkl.20.00 WIB, dengan ditumpangi dua buah sepeda motor, dua orang dari anggota MAPALA itu kemudian mengantarkan kami menuju stasiun Lempuyangan.
Di dalam gerbong kereta ekonomi ini kepalaku mulai bergerak, menengok ke kiri dan ke kanan, mata pun ikut  berburu, mencari nomor tempat duduk sesuai dengan yang tercantum di tiket,  "yeah, dapat..", kuselipkan lembaran tiket ini di antara ke dua bibir sambil kutanggalkan beban  carrier yang menempel di bahu. "Hmmm, di dalam kereta lagi...", begitu pikirku. Tak lama berselang kereta mulai berjalan meninggalkan Jogjakarta dan juga meninggalkan semua waktu di tiga puluh hari yang kemarin, hanya menyisakan kenangan  dan sebuah cerita.. Terdengar sayup sayup suara di dalam hati yang berkata padaku...
" Akhirnya.., kamu pulang..."

begitulah akhir kisah perjalanan di 2008...



tulisan di atas bermula dari sini....


10 Agustus '08(Hari Pertama) Perjalanan menuju Bandung
Hujan yang turun mulai membasahi aspal jalanan saat kendaraan ini sedang melintas di jalan tol Cipularang, pertanda restu-Nya akan perjalanan kami yang baru saja dimulai ini -hujan berarti berkat dan rejeki, begitulah banyak orang menilainya-. Kurang dari tiga jam sampailah kami di Gerbang Tol Cileunyi (Pintu tol Bandung paling timur), perjalanan dilanjutkan menuju sebuah  Komplek Perumahan di daerah Bandung Timur, tempat kerabatku tinggal. Setengah hari Soe dan aku menumpang istirahat disana, kemudian  malam harinya kami beranjak ke daerah Setiabudi (masih di kota Bandung), Pirman, Hinu dan Fauzi yang mengantarkan kami kesana.

Setiabudi, Bandung
Wajah yang sangat kukenal itu menyambut dengan senyuman khasnya sesaat setelah kami tiba di Setiabudi, kemudian ia berkata "Udah gw tungguin dari tadi, malem amat datengnya, kirain sore mau kesininya...", dia adalah kakak perempuanku. Setelah berbincang sejenak kemudian ia mempersilakan kami tuk beristirahat, dan acara 'pemulihan tenaga' pun dimulai, diiringi dengan suara  khas dengkuran...
(hari ke-2 di Bandung diisi dengan aktivitas belanja kamera digital, melengkapi logistik dan mengecek ulang barang-barang).




12 Agustus '08(Hari Ketiga) Bandung - Surabaya
Pukul 04.00 WIB Soe dan aku sudah siap tuk berperang,  dinginnya suhu udara Bandung di pagi hari tak menyurutkan niat kami untuk tetap pergi, kami segera berkemas lalu bergerak menuju stasiun Kiaracondong. Matahari  belum nampak saat kami tiba disana, hari masih pagi dan para calon penumpang belum banyak berdatangan, hal ini tentu sangat menguntungkan, membuat kami tidak perlu berlama-lama antri untuk membeli tiket.
Akhirnya, raja siang itu menampakkan diri juga, sesaat kutengok jam di stasiun  telah menunjukkan pukul 06.10 WIB, yang artinya bila sesuai jadwal sebentar lagi kereta akan berangkat. Dan ternyata, kereta pagi ini berangkat sesuai jadwal (andai saja setiap hari seperti ini..). Suara mesin, hiruk pikuk dan hembusan angin yang masuk  melalui lubang jendela  turut mengiringi kepergian kami.
Suasana seperti ini ku'rasakan kembali -suasana yang membuat banyak orang merasa tidak nyaman- ,ya, suasana yang selalu ku'rindukan -walau terkadang jenuh-, saat para penumpang merasakan sesak dan panas berada dalam bongkahan logam ini;  saat suara-suara merdu mereka masih sedikit terdengar diantara "kerasnya suara-suara sumbang di luar sana"; saat melihat mereka yang tampak miskin sebetulnya bergelimang harta; saat tembok perbedaan warna kulit mampu dirobohkan (walaupun masih saja ada yang menyembah tembok-tembok itu); saat menyaksikan "mereka" berjuang untuk dapat tetap hidup dan menghidupi keluarganya.
...Di sanalah tempatnya... saat aku, anda, dia dan mereka belajar tentang hakikat dan arti hidup,,,, di dalam rangkaian gerbong kereta api ekonomi.


Surabaya Gubeng
Surabaya Gubeng sangat sepi setibanya kami disana, tepatnya pukul 23.20 WIB waktu itu, lalu kami berjalan ke arah papan informasi untuk melihat dan memastikan jadwal keberangkatan kereta api yang menuju Banyuwangi. Setelah melihat jadwal, kami lantas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok hari dengan jadwal keberangkatan pukul 09.00 WIB.
Malam ini kami memilih tidur di bangku stasiun, tepat di samping ruang kontrol perlintasan/jalur. Setelah mendapatkan posisi tidur yang nyaman aku mulai mencoba tuk memejamkan mata ini, namun gagal, jumlah nyamuk yang sangat banyak begitu mengganggu.. membuat sulit sekali untuk tertidur.
Namun lelah yang teramat sangat akhirnya membuatku harus menyerah dari keadaan terjaga, -seolah kebal dengan gigitan nyamuk-nyamuk ini- akupun tertidur dan terlelap...




13 Agustus '08(Hari Keempat) Surabaya - Banyuwangi - Denpasar
Setelah sebelumnya sempat mondar-mandir (Stasiun Gubeng - Terminal Bungurasih - St Gubeng), akhirnya kami memutuskan seperti rencana semula; melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi dengan menggunakan jasa kereta api (kelas bisnis)
Di Surabaya Gubeng pagi ini kami melihat sekelompok orang "berransel/bercarrier"  yang sedang duduk duduk di salah satu sudut stasiun, kemudian kami menghampiri & menyapa mereka. Acara mengobrol dimulai, (ternyata kami mempunyai tujuan yang sama; Pulau Lombok) mungkin karena kesamaan tujuan yang akhirnya membuat suasana semakin hangat dan 'bau' keakrabanpun smakin terasa...
...terlarut dengan asyiknya perbincangan..., ritual menunggu kereta bukan lagi agenda yang membosankan.. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan ternyata saat yang ditunggu telah tiba, ditandai dengan pergerakan dari para calon penumpang yang mulai berjalan menuju kereta.


Transisi waktu
Singkat cerita, kereta yang kami tumpangi tiba juga di Banyuwangi kira2 pkl.16.00 WIB. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan fery menuju Gilimanuk, lalu estafet dengan menggunakan bis yang selanjutnya mengantarkan kami sampai di Terminal Ubung, Denpasar.
"Padangbai... Padangbai..!!" kira2 pkl.21.00 WITA saat suara-suara keras dan lantang itu menyambut di Ubung. "Nggak pak, nggak..., saya mau ke Monang Maning", jawabku. Lalu Soe dan aku melangkah keluar menjauhi terminal. Setelah berjalan kaki kurang lebih 2 km sampailah di salah satu sudut jalan kota Denpasar, dan tepat di emperan toko itu kami  berhenti, beristirahat sambil menunggu sahabat yang akan datang menjemput. {makasih ya Monic, udah mau ngejemput 2 gembel ini...}



14 Agustus '08
(Hari Kelima) Denpasar, Denpasar - Padangbai - Lembar
Suhu udara yang terasa menyengat membangunkanku pagi ini,  di dalam ruangan kamar  sebuah rumah di daerah Monang Maning, rumah yang  merupakan kediaman keluarga Bpk Aceng, (keluarga yang selalu sudi memberi kami tumpangan).
Setelah selesai mandi dan sarapan, barulah kami menyempatkan diri tuk bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga, karena tadi malam kami tidak sempat berbincang banyak.
Sore hari aku meminta ijin keluar rumah untuk sekedar 'mengetahui' keadaan kota Denpasar. Kami mulai beranjak dari Monang Maning (dengan bermodalkan sepeda motor pinjaman; lagi2 Pak Aceng yang memberikan pinjaman itu), tujuan pertama adalah melihat sunset di Pantai Kuta, kemudian dilanjutkan dengan berkeliling kota Denpasar.
Terasa sangat cepat hari ini berlalu, belum puas sebenarnya berkeliling, namun sore telah berganti malam dan akhirnya kami sepakat untuk menyudahi saat saat yang menyenangkan ini. Motorpun dibelokkan dan siap untuk dikembalikan, lalu kami kembali ke Monang Maning.
Terpaksa kami harus berpamitan dengan keluarga Bpk. Aceng,  padahal baru saja kami tiba disini, tapi mengingat masih ada hal yang harus dilakukan di depan sana, akhirnya kami harus tetap pergi malam itu.
Selamat tinggal Monang Maning, selamat tinggal Denpasar (kami akan kembali secepatnya...)

Padangbai
Kendaraan L-300 yang mengantarkan kami dari Ubung telah sampai di Padangbai, dan artinya Lombok telah menunggu di seberang sana. Enam puluh dua ribu rupiah kocek yang harus dikeluarkan saat  membeli tiket untuk penyeberangan, tanpa berlama lama lagi lantas kami segera melangkahkan kaki, mendekat dan masuk ke fery yang sebentar lagi akan berlayar.

Tanda tanya tanpa jawab
Gelombang laut malam ini cukup tinggi, membuat pelayaran sedikit terganggu dan  perjalanan pun lebih lama dari biasanya (waktu normal penyeberangan kira2 4 jam)
Lima jam telah berlalu namun pelabuhan Lembar masih belum nampak. Di bangku fery ini aku melamun, bertanya pada diriku sendiri "apa yang sebenarnya sedang kulakukan? apa yang sebenarnya kucari?", jawaban masih belum kutemukan ketika aku menoleh Soe yang sedang terlelap, "Haaaah, mendingan gw keluar ruangan aja deh, nikmatin angin laut malem hari, foto2 juga akh.." begitu gumamku dalam hati.



15 Agustus '08
(Hari Keenam) Lembar- Mataram - Sembalun - Pos 1
07.30 WIB/08.30 WITA fery ini akhirnya merapat di Lembar (Lembar adalah pelabuhan untuk akses pulau Lombok dari arah barat). Tidak sabar rasanya aku ingin segera keluar dari 'baja raksasa' ini. Dengan terburu buru, bergegas kami keluar dari fery, dan... Akhirnya....... sampailah aku di tanah Lombok ini, tanah yang telah tiga tahun ini selalu ku'impikan, tanah yang tadinya hanya bisa ku'lihat di Peta, namun kali ini aku sungguh berdiri di atasnya... Kobaran bahagia di dalam hati tak bisa ku'tumpahkan dengan berteriak-teriak atau bersorak-sorai, hanya berucap di dalam hati "Trimakasih TUHAN, sungguh terimakasih..."

Kangen Band menyambut, tak lama berselang setelah sang sopir memutar radio
"...cobalah kau mengerti... ...kuyakin kita mampu..." (suara pelantun wanita menyanyikan lagu kangen band versi dangdut),
suara ini terdengar sangat janggal di telinga dan mulai mengusik ketenanganku yang sedang asyik menikmati suasana Lombok dari kaca jendala mobil ini, Soe dan aku saling manatap, seperti dikomandokan kami berdua tersenyum dan bersamaan menggelengkan kepala, sepertinya kami berdua  sama-sama tidak menyukai lagu kangen band versi dangdut ini. Namun musik ini kemudian mulai menghipnotis kami, sampai tiba waktunya dimana kedua jempol tangan dan tumit akhirnya mulai bergoyang mengikuti alunan lagu (ternyata.., memang lebih asyik menikmati suasana Lombok dengan musik dangdut...)

Mas Alex batal Jumatan
Sosok pria bertubuh kekar yang sedang berdiri di bahu jalan itu sudah kukenali meski aku melihatnya dari kejauhan. "Stop disini, Pak" ucapku pada bapak sopir. Aku turun dari kendaraan "Kangen Band" ini lalu menyapa laki-laki itu "Halo mas, pa kabar mas? udah lama nunggunya?" dia adalah mas Alex, putra sulungnya Bpk. Aceng yang sedang merantau di Lombok (Ampenan tepatnya). Enam tahun yang lalu terakhir aku bertemu dengannya.
Beliau menyambut kedatangan kami dengan hangat, kami berbincang-bincang dan  kemudian beliau menanyakan perihal rencana kunjungan Soe dan aku di Lombok ini..
"kq buru-buru amat?, baru juga nyampe", kalimat tersebut yang terlontar dari mulut mas Alex, setelah aku menerangkan bahwa siang ini kami akan langsung melanjutkan perjalanan menuju  Sembalun. Mas Alex lantas bersiap diri untuk mengantarkan kami ke Aikmel. "Yo, aku antar", ajaknya. "Waaah, aku  jadi ngga Jumatan nih.. Ya udah deh ga pa pa, sekali-kali", dengan sedikit rasa penyesalan di hati akhirnya beliau merelakan juga di hari itu tidak sholat Jumat. {hihihi... maaaf ya mas Alex..., tapi makasih ya, udah mau direpotin... thx bgt mas}

Desa itu..., lembah...
Pkl. 16.00 WITA mobil sayur itu telah menyelesaikan tugasnya mengantarkan kami, saat Soe dan aku tiba di suatu desa yang nampak seperti terisolir (padahal tidak) -pemukiman penduduk ini sangat sunyi, namun asri dan indah karena dipagari oleh  barisan bukit/pegunungan yang  juga menyebabkan suhu udara disini begitu sejuk bahkan cenderung dingin, ya,  lembah ini; desa Sembalun Lawang-. "Ngga ada orang, euy. Pada kemana ya...?", Soe menginformasikan bahwa di Pos pendakian TNGR tidak ada orang yang berjaga. Hari menjelang Maghrib saat kami melihat ada orang yang datang. "Maaf mas tadi posnya ditinggal, soalnya saya ikut bantu-bantu warga sini untuk persiapan acara 17 Agustus nanti", kira kira begitulah pernyataan dari lelaki ini. Lalu ia membuka pintu kemudian kami dipersilakan masuk ke ruangan; untuk melapor dan menyelesaikan keperluan administrasi.
Setelah selesai dengan perijinan dan administrasi, Soe dan aku mulai mendiskusikan rencana selanjutnya, dan kami sepakat untuk memulai pendakian malam hari nanti.
Sore itu kami beristirahat di Pos pendakian. Semakin gelap semakin sunyi suasana disini, sementara dari kejauhan aku melihat cahaya-cahaya lampu dari iring-iringan mobil, dan sepertinya sang sopir menurunkan kecepatan laju kendaraannya, mobil itu semakin mendekat kemudian berbelok dan berhenti tepat di depan pos Pendakian. Keluarlah isi perut  dari 3 mobil itu dan nampak sekitar 15 orang berpakain pendaki sangat siap tuk 'berperang'. Suasana di sekitar pos berubah seketika, menjadi ramai dan seolah membunuh sunyi.

Memang 'harus' di Pos 1
Waktunya tiba, selesai berdoa untuk mohon ijin dari Yang Mahakuasa pendakianpun akhirnya dimulai. Bersama dengan rombongan pendaki yang baru datang, kami mulai mengayunkan langkah pertama. Tepat di belakang mereka kami berjalan, dan seperti biasa, akhirnya kami tidak dapat mengimbangi ritme jalan para pendaki yang lain -yang mungkin lebih berpengalaman-. Disisi lain, pendakian di musim kemarau ini menyebabkan debu-debu di sepanjang jalur menjadi terangkat oleh langkah kaki para pendaki, dan hal ini cukup merepotkan Soe dan aku yang masih berjalan tepat  di belakangnya. Sekitar pukul 23.00 kami sudah mulai tercecer jauh di belakang, semakin tidak dapat mengimbangi langkah kaki pendaki lain. "Aura-aura" menyerah dan semangat untuk tidur lebih besar dibandingkan dengan keinginan untuk terus berjalan. Sepertinya pos 2 hanya tetap menjadi impian di malam ini -rencananya memang kami akan bermalam disana, namun apa daya, Pos 1 masih belum terlihat , apalagi Pos 2..., sedangkan kondisi tubuh sudah sangat letih-.
Tiga jam telah berlalu dan tempat beratap itu mulai terlihat. Inilah yang disebut Pos 1. Bergegas kami menuju kesana, sementara rombangan yang tadi berjalan di depan kami sekarang sudah tidak terlihat lagi, seperti hilang tanpa jejak.
Setibanya di Pos 1, kami langsung membongkar semua perlengkapan kemudian mendirikan tenda dan merapikan ruangan dalamnya. Setelah selesai semua aku mengambil inisiatif untuk segera beristirahat, rasa kantuk ditambah lagi dengan kondisi tubuh yang sangat letih menyebabkan acara untuk makan atau memasak terpaksa batal, saat ini hanya ada satu kata; TIDUR. Tak lama kemudian kami tertidur...  (sambil bermimpi.., seakan tempat ini adalah Pos 2... ngareeep).